HUT Bhayangkara ke-80, Prabowo Minta Polri Jaga Kepercayaan Rakyat dan Tegakkan Hukum Berkeadilan

oleh -16 Dilihat

Bogor – Presiden Prabowo Subianto menegaskan peran strategis Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas nasional dan mendukung transformasi Indonesia menuju negara maju. Penegasan tersebut disampaikan saat memimpin Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Lapangan Satuan Latihan Korps Brimob, Cikeas, Kabupaten Bogor, Rabu (1/7/2026).

Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh keluarga besar Polri sekaligus mengapresiasi dedikasi jajaran kepolisian yang selama ini bertugas menjaga keamanan, ketertiban, dan melayani masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Presiden menilai tema Hari Bhayangkara tahun ini, “Polri untuk Masyarakat”, mencerminkan jati diri sekaligus arah pengabdian institusi kepolisian. Menurutnya, Polri harus selalu hadir untuk rakyat, bekerja demi kepentingan rakyat, serta menjadikan pelayanan kepada masyarakat sebagai prioritas utama.

“Polri hadir untuk rakyat. Polri bekerja untuk rakyat. Polri harus melindungi rakyat. Polri mengabdi kepada bangsa dan negara,” tegas Presiden.

Stabilitas Keamanan Jadi Fondasi Pembangunan Nasional

Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah menjalani berbagai transformasi besar, mulai dari transformasi ekonomi, birokrasi, pendidikan, pangan, hingga energi. Seluruh agenda tersebut, menurutnya, hanya dapat berjalan apabila stabilitas keamanan nasional tetap terjaga.

Ia mengingatkan bahwa tidak mungkin tercipta pembangunan, investasi, maupun kesejahteraan masyarakat tanpa adanya kepastian hukum dan keamanan.

“Tidak mungkin ada kemakmuran tanpa stabilitas. Tidak mungkin ada pembangunan tanpa keamanan. Tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi tanpa kepastian hukum. Tidak mungkin ada negara yang kuat tanpa aparat negara yang dipercaya rakyat,” ujarnya.

Karena itu, Presiden menilai keberadaan Polri menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Apresiasi Transformasi dan Kontribusi Polri

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga memberikan penghargaan kepada seluruh anggota Polri atas berbagai kontribusi yang dinilai semakin luas, tidak hanya di bidang keamanan, tetapi juga mendukung berbagai program strategis pemerintah.

Presiden menyoroti keterlibatan Polri dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, pembangunan gudang penyimpanan hasil pertanian, pengembangan produksi jagung, pembangunan sumur bor dan jembatan, penanganan bencana, hingga dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Presiden, pembangunan dapur pelayanan gizi yang dilakukan Polri mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk sejumlah lembaga internasional yang meninjau langsung pelaksanaannya di Indonesia.

“Polri juga ikut aktif membangun lebih dari seribu satuan pelayanan pemenuhan gizi atau dapur-dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis. Dapur-dapur yang dibangun Polri merupakan yang terbaik,” katanya.

Selain itu, Presiden mengapresiasi keberhasilan Polri bersama TNI, kementerian, pemerintah daerah, BUMN, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keamanan selama perayaan Natal, Tahun Baru, Idulfitri, serta berbagai agenda nasional lainnya.

Ancaman Kejahatan Semakin Kompleks

Meski memberikan apresiasi, Presiden mengingatkan bahwa tantangan keamanan ke depan akan semakin berat. Ia menyoroti berbagai bentuk kejahatan modern seperti narkotika, judi online, perdagangan orang, kejahatan siber, terorisme, korupsi, penyelundupan, pertambangan ilegal, perkebunan ilegal, hingga berbagai praktik kejahatan ekonomi yang merugikan negara.

Presiden mengapresiasi keberhasilan aparat dalam mengungkap ribuan kasus narkotika, memberantas judi online bersama kementerian terkait, serta menjaga Indonesia tetap bebas dari insiden terorisme dalam beberapa tahun terakhir.

Namun demikian, ia mengingatkan agar seluruh aparat tidak cepat merasa puas.

“Tantangan masih besar. Jangan pernah lengah. Jangan pernah cepat puas,” tegasnya.

Penegakan Hukum Harus Berkeadilan

Dalam pidatonya, Presiden juga memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya penegakan hukum yang adil dan tidak diskriminatif.

Menurutnya, hukum harus menjadi pelindung masyarakat, bukan alat kepentingan kelompok tertentu maupun alat balas dendam politik. Presiden menegaskan bahwa tidak boleh ada kriminalisasi, penyalahgunaan wewenang, maupun pihak yang kebal terhadap hukum.

“Hukum tidak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas. Hukum tidak boleh menjadi alat mereka yang punya uang. Hukum tidak boleh menjadi alat balas dendam politik,” tegas Presiden.

Ia menambahkan bahwa masyarakat yang lemah harus memperoleh perlindungan, sementara masyarakat yang mencari keadilan harus mendapatkan pelayanan hukum secara profesional.

Demokrasi Harus Tetap Dijaga

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa pemerintah menghormati kritik sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, menurutnya, demokrasi tidak boleh dimanfaatkan oleh kelompok berkepentingan untuk memecah belah bangsa maupun dipengaruhi oleh kepentingan asing.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan politik.

“Kita menghormati kritik. Kritik penting untuk memperbaiki diri. Tetapi demokrasi jangan dibajak oleh mereka yang memiliki kepentingan tertentu. Perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi kebencian,” ujarnya.

Presiden menegaskan bahwa Polri harus menjadi penjaga demokrasi yang dewasa, mampu menjamin kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pendapat secara damai sekaligus memastikan hukum tetap ditegakkan.

Enam Arahan Strategis bagi Polri

Pada akhir pidatonya, Presiden menyampaikan enam arahan utama kepada seluruh jajaran Polri sebagai pedoman dalam menjalankan tugas ke depan.

Arahan tersebut meliputi menjaga kepercayaan masyarakat, membangun kedekatan dengan rakyat melalui pelayanan yang humanis, menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu, meningkatkan profesionalisme melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kecerdasan buatan, memperkuat sinergi dengan seluruh elemen bangsa, serta terus melakukan pembenahan internal dengan menjunjung sikap rendah hati dan keterbukaan terhadap perubahan.

Presiden menegaskan bahwa institusi kepolisian yang kuat adalah institusi yang terus belajar, mau mendengar kritik, dan berani berubah demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Menutup pidatonya, Presiden menyampaikan apresiasi kepada Kapolri beserta seluruh jajaran atas upaya reformasi internal yang terus dilakukan, mulai dari peningkatan profesionalisme, penguatan disiplin, hingga pembangunan sinergi dengan berbagai elemen bangsa.

“Jagalah kehormatan Kepolisian Republik Indonesia dan yang paling penting, jagalah bangsa dan rakyat Indonesia,” pesan Presiden.

Presiden kemudian menutup amanatnya dengan mengucapkan Dirgahayu ke-80 Kepolisian Negara Republik Indonesia seraya berharap Polri terus menjadi institusi yang profesional, modern, dicintai masyarakat, serta mampu mengawal Indonesia menuju negara yang maju, adil, aman, dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.