Jakarta – Komunitas Pemikir Nusantara (KPN) mengecam keras narasi provokatif yang dilontarkan oleh Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, yang menyebut Presiden Prabowo Subianto sebagai “belum siuman”, “boneka oligarki”, hingga “hasil rahim cacat”.
Dalam keterangan resminya, Juru Bicara KPN, Miftah menilai opini tersebut tidak mencerminkan nalar intelektual, melainkan luapan frustrasi yang merendahkan etika berdemokrasi.
“Kritik tentu sah dan bagian dari demokrasi, tapi jika sudah melecehkan pribadi pemimpin dengan istilah ‘belum siuman’, ‘rahim cacat’, atau ‘gimik’, itu bukan lagi kritik itu penghinaan. Demokrasi tidak layak diisi oleh fitnah dan sentimen pribadi yang tidak berdasar,” tegas Miftah, Sabtu (20/7).
Miftah menegaskan bahwa dukungan Presiden Prabowo terhadap keberlanjutan kebijakan Presiden Jokowi termasuk diplomasi luar negeri dan keterlibatan dalam Belt and Road Initiative (BRI), adalah bentuk komitmen kontinuitas pembangunan nasional bukan penyerahan kedaulatan.
“Pernyataan Prabowo di hadapan Presiden Xi Jinping adalah diplomasi kenegaraan. Itu praktik lumrah dalam hubungan luar negeri. Menuding itu sebagai bentuk ‘penjajahan China’ adalah nalar geopolitik yang terlalu dangkal dan sarat teori konspirasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, KPN menilai opini seperti yang disampaikan oleh Sutoyo justru menciptakan disinformasi publik, memperkuat polarisasi, dan membahayakan legitimasi hasil demokrasi yang telah sah secara konstitusional.
“Prabowo adalah presiden terpilih lewat proses demokrasi. Menuduh beliau boneka, tanpa bukti, hanya menunjukkan ketidakdewasaan politik. Jika punya data, bawa ke ranah hukum atau forum ilmiah, bukan melempar narasi sesat di ruang publik,” ujar Miftah.
KPN juga mengingatkan bahwa rekam jejak Prabowo dalam menjaga kedaulatan dan integritas bangsa tak bisa begitu saja dihapus dengan opini yang dibalut fitnah. Kinerja Prabowo sebagai Menteri Pertahanan selama lima tahun telah memperlihatkan komitmennya pada penguatan pertahanan nasional.
“Kami percaya bahwa Presiden Prabowo bukan boneka siapa pun. Beliau pemimpin dengan prinsip, dan keputusan-keputusan strategisnya selalu diletakkan di atas kepentingan nasional,” tutup Miftah.






