Kapolri Suyudi Jadikan Pemberantasan dan Pemulihan Kampung Narkoba Prioritas 100 Hari

oleh -40 Dilihat

Jakarta – “Ya, saya ingin membersihkan Indonesia dari peredaran narkoba yang sekarang sudah semakin masif. Caranya, ya, kita harus lebih masif dalam bertindak. Negara tidak boleh kalah dengan bandar narkoba.”

Itulah jawaban lugas Kapolri, Jenderal Pol Suyudi Ario Seto, SIK, SH, MSi, menjawab pertanyaan wartawan terkait masifnya penggerebekan sarang narkoba di berbagai kota besar, tidak lama setelah dia dilantik.

Tidak butuh waktu lama, dua pekan dia langsung menabuh genderang perang terhadap tempat-tempat yang disebut “kampung narkoba”. Dari Jakarta Barat hingga Makassar, dari Medan hingga Palangka Raya, langkah awal itu menandai arah kepemimpinan yang berakar pada pengalaman panjangnya memerangi narkotika.

Menjelang siang Jumat, 9 Oktober 2026, ratusan personel merangsek ke gang-gang sempit di dua kawasan yang selama bertahun-tahun namanya lekat dengan peredaran narkoba di Ibu Kota: Kampung Ambon di Cengkareng dan Kampung Boncos di Palmerah, Jakarta Barat. Sekitar 700 personel gabungan Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, BNN, TNI, hingga Satpol PP bergerak bersamaan. Sebanyak 16 orang diamankan di Kampung Ambon dan delapan lainnya di Kampung Boncos, bersama barang bukti berupa sabu, ganja, timbangan, dan alat hisap.

Di tengah operasi, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Kristian Parluhutan Siagian menyampaikan pesan yang kemudian menjadi semacam kredo operasi ini. Arahan Presiden kepada Kapolri, katanya, sudah jelas dan jajarannya “tidak akan tidur”. Ia menegaskan bahwa masyarakat ada di hati mereka, dan bahwa mata rantai narkoba akan diberantas bersama warga.

Hari itu baru delapan hari sejak Suyudi Ario Seto mengucapkan sumpah jabatan di Istana Negara pada 1 Oktober 2026.

Medan Perang yang Dikenal

Bagi mereka yang mengikuti perjalanan kariernya, fokus ini terasa seperti kelanjutan yang pas. Lulusan Akademi Kepolisian 1994 itu dikenal sebagai spesialis reserse kriminal. Ia pernah memimpin Satreskrim di Polres Metro Jakarta Selatan, Tangerang Kota, dan Jakarta Barat, lalu menjadi Kapolda Banten sebelum ditarik ke Bareskrim dan, pada 25 Agustus 2025, dipercaya memimpin Badan Narkotika Nasional.

Di BNN, ia kerap hadir di forum-forum pencegahan, misalnya dalam deklarasi Jawa Timur Bersih dari Narkoba di Surabaya pada Februari 2026. Menariknya, tiga hari sebelum namanya diumumkan sebagai calon Kapolri, ia dilaporkan mengikuti rapat di Istana yang membahas rehabilitasi narkoba dan kelebihan kapasitas lapas. Setelah dilantik, ia menyebut Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian besar pada pemberantasan narkoba dan judi daring.

Dalam paparan 100 hari pertamanya di hadapan DPR, Suyudi menjanjikan tiga capaian: ruang publik yang aman, pemberantasan dan pemulihan kawasan narkoba, serta pembersihan judi daring dan penipuan digital. Tema kepemimpinannya, “Polisi Bersama Masyarakat”, menempatkan warga sebagai pusat orientasi kerja kepolisian. Penggerebekan di kampung-kampung narkoba menjadi bukti pertama bahwa janji itu tidak berhenti di atas kertas.

Serentak dari Barat ke Timur

Operasi di Jakarta ternyata hanya pembuka. Bareskrim menyebut penindakan dilakukan serentak di berbagai wilayah, dan dalam tiga hari gelombangnya merambat ke banyak provinsi.

Sumatra Utara. Pada Minggu, 11 Oktober, sebanyak 451 personel gabungan menyisir sembilan titik yang diduga menjadi sarang peredaran. Sebanyak 36 orang diamankan, 27 di antaranya positif menggunakan narkoba dan dua teridentifikasi sebagai pengedar. Polisi menyita sabu seberat sekitar 102 gram, bong, kendaraan, serta lima mesin judi dingdong. Temuan terakhir itu menunjukkan bagaimana narkoba dan judi sering tumbuh di ekosistem yang sama.

Riau. Pada hari yang sama, sekitar pukul 02.30 WIB, tim gabungan Bareskrim dan Polda Riau menggerebek sebuah tempat hiburan malam di Pekanbaru. Dari 68 orang yang diamankan, 63 dinyatakan positif amfetamin dan metamfetamin berdasarkan tes urine.

Sulawesi Selatan. Di kawasan Borta, Kecamatan Tallo, Makassar, operasi berlangsung paling dramatis. Warga sempat melawan dengan melempar batu dan kayu, tetapi aparat berhasil menembus benteng pembatas yang menjadi pelindung jaringan peredaran. Sebanyak 104 orang diamankan, termasuk tiga bandar. Salah satunya, seorang residivis berinisial P, sempat bersembunyi di atap sebelum terpantau drone.

Sulawesi Tengah. Pada Senin, 12 Oktober, Polda Sulteng bersama BNNP menggerebek Kelurahan Kayumalue, Kecamatan Palu Utara. Tujuh orang diamankan dan seluruhnya positif menggunakan narkoba.

Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Di Palembang, enam orang dinyatakan positif narkoba dalam penggerebekan sebuah kampung narkoba. Di Palangka Raya, Polda Kalteng bersama BNNP membongkar dugaan peredaran sabu di kawasan Puntun.

Peta itu menunjukkan sesuatu yang penting. Operasi ini bukan sekadar pertunjukan di ibu kota, melainkan gerakan berjenjang yang melibatkan Mabes Polri, polda, polres, BNN daerah, TNI, dan pemerintah daerah dalam satu komando yang serempak.

Dari Penindakan ke Pemulihan

Hal yang patut dicatat adalah pendekatan yang tidak seragam terhadap semua orang yang diamankan. Dalam sejumlah keterangan, kepolisian menyatakan bahwa mereka yang terbukti murni pengguna akan ditempuh melalui jalur penyembuhan, sementara bandar dan pengedar diproses hukum. Pembedaan ini sejalan dengan latar belakang Suyudi sebagai mantan Kepala BNN, yang sebelumnya terlibat langsung dalam agenda rehabilitasi dan pencegahan.

Dalam kerangka 100 hari, frasa “pemberantasan dan pemulihan kawasan” menunjukkan bahwa targetnya bukan hanya membersihkan lokasi, tetapi juga mengembalikan kehidupan di dalamnya.

Ujian yang Sesungguhnya

Para pengamat tentu tahu, penggerebekan di titik-titik rawan bukan hal baru. Kampung Ambon dan Boncos sendiri sudah beberapa kali menjadi sasaran operasi. Tantangannya adalah memastikan hasil hari-hari ini tidak menguap ketika tim beranjak pergi.

Tanda-tanda bahwa polisi menyadari hal itu mulai terlihat. Bareskrim kini memburu bandar besar yang diduga memasok narkoba ke Kampung Ambon dan Boncos, sambil menelusuri jaringan pemasoknya. Dari lapangan, ujung benang itu perlu terus ditarik hingga ke hulu: jalur masuk, pendana, dan pengendali yang tidak pernah tampak di gang-gang sempit.

Dukungan publik pun terlihat. Di DPR, muncul desakan agar penindakan dilakukan tegas tanpa kompromi. Namun pelajaran dari banyak operasi serupa menyarankan agar ketegasan berjalan beriringan dengan transparansi, pemantauan pascaoperasi, dan program pemberdayaan warga, sehingga kampung yang dibersihkan benar-benar tidak kembali menjadi pasar gelap.

Delapan hari pertama telah menunjukkan arah dan tempo. Dengan pengalaman Suyudi di BNN, dukungan Presiden, dan koordinasi lintas lembaga yang kini bergerak serempak, ada alasan kuat untuk optimistis bahwa genderang yang ditabuh dari Kampung Ambon itu akan terdengar hingga ke hulu jaringan narkoba, dan membuka jalan bagi kampung-kampung yang kembali menjadi tempat yang aman untuk anak-anak tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.